ARTIKEL POLITIK TENTANG JOKOWI-JK

Kelompok kerja (pokja) pemerintahan transisi Jokowi-JK sudah hampir rampung menyelesaikan tugasnya. Pokja pemerintahan Transisi Jokowi –JK ini secara krusial telah menentukan cetak biru quo vadis tata kelola pemerintahan Jokowi JK selama 5 tahun kepemimpinannya kedepan. Tradisi baru dalam alih kekuasaan politik di negara ini – sekaligus merupakan Fase awal politik pemerintahan Jokowi – JK tersebut, telah berhasil merumuskan matrikulasi mengenai model, struktur dan karakter serta kriteria pejabat publik yang akan mengisi pos sebagai pembantu Jokowi – JK sebagai menteri.
Dan kemarin, (15/9) sambil cengengesan, Presiden terpilih Jokowi dalam konferensi pers-nya telah menetapkan postur pemerintahan kabinetnya yang akan bekerja selama 5 tahun kedepan setelah ia resmi di lantik 20 Oktober 2014 mendatang.
Persoalannya, apakah fase krusial yang telah terbentuk tersebut sejatinya telah mencerminkan implementasi atas konsistensi idealitas visi politik Jokowi seperti yang pernah diretorikakan kepada publik pada saat merebut hati rakyat ? Jawaban atas pertanyaan itu memang mungkin terlalu dini untuk di justifikasi dalam konteks menimbang secara kritis atas sejumlah pernyataan Jokowi yang sepertinya “berdamai” dengan Jusuf Kalla yang mengedepankan realitas politik ketimbang bertahan dengan pakem dramaturgi pencitraan personal melalui statement politik selama ini. Atau mungkinkah keputusan mengenai komposisi Kabinet pemerintahan Jokowi tersebut merupakan salah satu indikator bahwa sejatinya legitimasi personal Jokowi amat lemah. Ia terbukti hanya ditopang oleh dramaturgi pencitraan politik yang pada akhirnya sembrono karena lemahnya retorika yang diproduksi lewat berbagai statement yang mengidentifikasi politik marginal personal Jokowi yang secara persuasif telah berhasil menarik simpati rakyat secara instan – sehingga memenangkan kontestasi pilpres. (lebih…)

Komentar

Postingan Populer