politik indonesia
1. Prabowo Benar, Terbukti Jokowi Memang Curang
[caption id="attachment_389291" align="aligncenter" width="448" caption="Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penolakkannya terhadap hasil Pilpres 2014 di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (22/7/2014). Pernyataan sikap tanpa kehadiran calon wakil presiden Hatta Rajasa tersebut merupakan bentuk kekecewaan dari tim pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terhadap pelaksanaan pilpres yang mereka nilai banyak diwarnai oleh kecurangan. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO) "]
Putusan Prabowo untuk mengundurkan diri dari Pilpres 2014 karena merasa dicurangi oleh Jokowi, mengagetkan banyak pihak. Namun, yang lebih mengagetkan dan membingungkan adalah kekalahan perolehan suara Prabowo dari perolehan suara Jokowi. Pasalnya, Koalisi Merah Putih adalah mayoritas dan menguasai birokrasi dari tingkat desa hingga pusat. Sang Pujangga menyetujui kecurigaan Prabowo terhadap Jokowi. Menurut Sang Pujangga, Jokowi curang karena mampu menarik dukungan dari jutaan relawan dalam negeri maupun luar negeri tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Kedua, Jokowi curang karena melibatkan ratusan artis dalam kampanyenya tanpa membayarnya. Ketiga, Jokowi curang karena membuat para golputer turun gunung untuk turut memberikan suara dalam Pilpres 2014. Artikel dengan judul yang mengecoh ini pun berhasil menarik perhatian dan dibaca sebanyak lebih dari 153. 537 kali.
2. Inikah Penyebab Prabowo dan Titiek Soeharto Berpisah
[caption id="attachment_389292" align="aligncenter" width="450" caption="Prabowo Subianto (kiri) dan Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. (TRIBUNNEWS/HERUDIN, KOMPAS/DANU KUSWORO)"]
Tragedi 1998 adalah salah satu sejarah kelam Indonesia. Kerusuhan memorak-porandakan Jakarta, menurunkan Soeharto dari tahta kepresidenan selama 32 tahun lamanya. Krisis moneter membuat ekonomi Indonesia memburuk. Harga-harga melambung tinggi, banyak usaha yang gulung tikar. Namun, tahukah rakyat Indonesia siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu? Benarkah Prabowo dalang di balik tragedi 1998 sebagaimana dituduhkan lawan politiknya? Apa yang menyebabkan ia dan Titiek Soeharto berpisah? Lewat paparannya yang menyedot pembaca lebih dari 140.772, Widawati Angkawijaya menuliskan dengan detail peristiwa politik pada 1998. Di dalamnya disebut-sebut pula nama Soeharto, Wiranto, Habibie, dan beberapa nama lainnya. Pada intinya Widawati Angkawijaya menyebut Prabowo sebagai korban politik.
3. Membuka Kebohongan dan Fitnah dari Para Politisi tentang Pemerintahan Megawati
[caption id="attachment_389532" align="aligncenter" width="448" caption="Megawati Soekarnoputri. (Kompas.com)"]
Politik memang bisa menghajar dari sisi mana saja. Pun dalam rangka mengalahkan Jokowi dalam Pilpres 2014, yang bisa "dibantai" tidak hanya Jokowi, tapi juga partainya, sejarah pemerintahan yang pernah dipimpin partainya. Dalam hal ini adalah Megawati Soekarnoputri dan masa pemerintahannya. Karena itulah digodok isu bahwa Megawati gagal memimpin Indonesia. Lalu, diwacanakan bahwa bila Jokowi jadi presiden, Megawati akan memberikan pengaruhnya kepada Jokowi dan karena itu bisa dipastikan kemungkinan besar pemerintahan Jokowi akan gagal pula, bahkan berbahaya bagi NKRI. Adapun isu yang digunakan untuk memfitnah Megawati adalah swastanisasi aset negara, BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), Sipadan dan Ligitan, penjualan gas tangguh, dan penjualan dua kapal tanker pertamina. Opini Hans Liem ini dilirik sebanyak lebih dari 85.110 kali.
4. Prabowo Terbakar di BBC News
[caption id="attachment_389450" align="aligncenter" width="446" caption="(Sumber: https://www.smh.com.au/world/indonesia-election-prabowo-comes-out-swinging-in-votes-dispute-20140711-zt3mz.html)"]
Pernyataan-pernyataan Prabowo Subianto dalam sebuah wawancara di BBC News setelah berbagai lembaga survei mengumumkan hasil real count Pilpres 2014 terkesan tidak realistis dan penuh prasangka buruk terhadap lawan politiknya, Jokowi. Pertama, Prabowo menuduh lembaga survei kredibel seperti CSIS, Kompas, dan SMRC yang menunjukkan suara Jokowi-JK unggul adalah lembaga survei partisan Jokowi-JK. Prabowo juga mengkritik Jokowi karena mengklaim kemenangan tanpa menunggu hasil resmi KPU, padahal dirinya sendiri pun melakukan hal yang sama. Ditanya mengenai style kepemimpinan, Prabowo menuduh gaya kepemimpinan Jokowi yang lebih merakyat hanyalah pencitraan, sedangkan permasalahan HAM yang disematkan pada dirinya untuk merusak namanya. Jawaban-jawaban Prabowo yang terkesan "meledak" dan tak berdasarkan fakta justru meneguhkan tidak adanya sifat ksatria pada dirinya. Opini Ian Wong yang muncul di Kotak Suara ini dibaca sebanyak lebih dari 71.613 kali.
5. Misi Rahasia Jokowi Menuju RI-1 Terbongkar...!
[/caption]Artikel politik yang judulnya kontroversial, bombastis, dan terkesan menjanjikan terbongkarnya "aib" seseorang tentang Pilpres 2014 sudah pasti membuat gatal Kompasianer untuk mengekliknya. Salah satunya artikel Kandi Rahmat ini. Ia terheran-terheran melihat publik menunggu-nunggu Jokowi untuk membeberkan visi-misinya kalau berhasil jadi RI1. Padahal dibanding capres lain (baca: Prabowo) yang sudah jauh-jauh hari mengampanyekan diri menjadi capres dan terkesan sudah matang dan siap menjadi presiden, seharusnya Jokowi jadi capres yang "tak laku". Ataukah sebenarnya ada misi rahasia Jokowi menuju RI1? Kandi Rahmat pun membongkarnya dengan menguliti kinerja Jokowi semasa menjadi Wali Kota Solo dan gubernur DKI Jakarta. Menurut Kandi, tidak berbeda dengan misi sebelum-sebelumnya, misi Jokowi menuju RI1 adalah menyejahterakan, mendidik, menyehatkan, dan menegakkan keadilan untuk memajukan bangsa Indonesia yang lebih baik. Untuk itu, Jokowi akan membenahi sistemnya seperti yang telah dilakukannya di Solo dan DKI Jakarta. Opini Kandi ini diganjar view sebanyak lebih dari 66.931 kali.





Komentar
Posting Komentar